Pagar besi di lorong tangga, yang seharusnya menjadi elemen fungsional yang sederhana dalam arsitektur, selalu berhasil menemukan cara untuk hidup—ketika logam dingin bertemu dengan kreativitas penuh imajinasi, desain "aneh" ini langsung mengubah tangga biasa menjadi lanskap paling mencolok di ruang tersebut.

Pagar besi pertama menambahkan sentuhan vitalitas dan romansa. Patung besi para penari tersebar di sepanjang tepi anak tangga, ada yang meregangkan tangan dan ada yang melangkah maju. Pola melingkar saling menjalin dengan garis-garis mengalir, memberikan irama seperti tarian pada logam yang dingin. Saat sinar matahari bersinar, bayangan patung jatuh di anak tangga, menyerupai sebuah pesta dansa luar ruangan yang tak pernah berakhir. Tangga luar yang dulu monoton kini berubah menjadi sudut artistik yang penuh cerita.

Pagar pada foto kedua langsung menggabungkan figur "manusia" ke dalam desain. Patung humanoid ber tekstur perunggu menyatu secara mulus dengan pagar, bentuk tubuhnya yang membungkuk dan anggota tubuh yang terentang memanjang sepanjang tangga, menyerupai penjaga diam yang bersandar di tepi anak tangga. Bukan lagi sekadar elemen logam kaku, melainkan instalasi artistik yang dipenuhi emosi dan postur, sehingga setiap langkah terasa seperti dialog sunyi dengan patung ini.

Dan desain yang ketiga mengambil jalur yang imut dan elegan. Tersembunyi di dalam pagar besi hitam terdapat siluet kucing-kucing dengan berbagai bentuk, ada yang sedang jongkok dan ada pula yang meregangkan tubuh dengan malas, diam-diam mengisi setiap sudut tangga. Tanpa desain berlebihan, desain ini mampu menyentuh hati lewat detail-detail halusnya, membuat ruang rumah sehari-hari terasa lembut dan penuh kekanakan. Melangkah turun tangga terasa seperti sensasi menenangkan akibat gosokan lembut kucing di pergelangan kaki.
Dalam bahasa Tionghoa, "Yujian" memiliki pengucapan yang sama dengan "bertemu" .
Teman-teman, kami menantikan pertemuan dengan kalian di lain waktu.